Senin, 21 Desember 2009

Persembahan untuk Laut dan Grebeg Suran

Dalam penanggalan Jawa, 1 Suro adalah Tahun Baru yang mengandung kegembiraan, syukur, doa, dan harapan untuk tahun berikutnya. Para nelayan dan petani memeriahkan ajang tersebut dengan menggelar persembahan.

Bagi nelayan di pesisir selatan Cilacap, 1 Suro diisi dengan sedekah laut. Mereka seolah melupakan sejenak beratnya kehidupan sebagai nelayan.

Semua penduduk kampung nelayan mendatangi tempat pelelangan ikan di Desa Kemiren, Kecamatan Cilacap Selatan, Jumat (18/12). Di situ ada panggung untuk pementasan lengger dengan iringan gamelan banyumas. Mereka siap berpesta.

Dari arah jalan desa muncul arak-arakan. Rombongan itu meliputi enam pria pembawa tandu berukuran 2 meter x 3 meter. Di atas tandu terdapat aneka sesaji seperti nasi tumpeng, kepala kambing, ayam panggang, buah-buahan, dan berbagai penganan tradisional lainnya.

"Semua itu sesaji yang di larung ke tengah laut. Berdasarkan tradisi, sesaji itu persembahan untuk Sang Ratu (Ratu Pantai Selatan). Namun, itu simbol tradisi saja," kata panitia acara Sodikin (45).

Melarung sesaji adalah puncak kegiatan sedekah laut. Saat larungan itu, nelayan dilarang melaut. Melaut menjadi pantangan tetap bagi nelayan saat Suronan. Apalagi, pada hari itu adalah Jumat Kliwon, waktu ketika nelayan dilarang mencari ikan.

"Kami berharap, nelayan selalu diberi berkah dan keselamatan. Penunggu laut tidak gampang marah dan ikan melimpah," kata Bahurekso (56), sesepuh kampung.

Sebelum sesaji dilarung, ratusan nelayan setempat berkumpul di tepi pantai. Mereka bersama-sama mengucapkan rasa syukur dan doa harapan agar Tuhan memberikan rezeki dan keselamatan di laut.

Sedekah laut itu bukan sekadar ritual tradisi. Kegiatan tersebut menjadi katarsis atau pelepasan sejenak atas beban hidup yang harus mereka jalani selama setahun mencari nafkah di laut.

"Kami berharap, Tuhan mendengarkan kesungguhan permohonan kami ini," kata Sodikin.

Di Baturraden, Kabupaten Banyumas, ratusan petani menghadiri Grebeg Sunan, Minggu (20/12). Mereka memperebutkan padi dan sayuran dengan harapan panen pertanian mereka setelah tahun baru melimpah.

Muskotik (50), seorang petani, mengaku, sebagian padi dari gunungan itu dijadikan bibit, dicampur dengan bibit padi dari toko untuk persemaian. "Hasil panennya bagus kalau dicampur dengan padi dari gunungan ini," katanya yakin.

Kepala Seksi Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas Deskart Sotyo Jatmiko mengatakan, acara Grebeg Suran menjadi magnet bagi para pengunjung.

(M Burhanudin/Madina Nusrat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar