Kamis, 04 November 2010

Homo Riseticus

Tulisan ini adalah refleksi diri sendiri, tanpa ada upaya untuk menyudutkan atau mengkritik orang lain, kalau ada yang merasa tersudut atau terkritik ya berarti dia memang ada di sudut atau dalam kondisi kritis. Tulisan ini juga sekaligus menyambung postingan yang dilakukan oleh pak Pramono, tentang empat tanggung jawab peneliti seperti yang disampaikan oleh pak Bashori imron.

Menurut saya, yang namanya peneliti adalahspesiesbaru yang berbeda dengan spesies-spesies lainnya. Walaupun memiliki ciri-ciri atau kararter sama. Tetap saja mereka berbeda. Sebagai spesies baru maka dengan tanpa mempertimbangkan kaidah perbiologian, saya memasukkan peneliti dalam spesies Homo riseticus, kalau latinyya seh investigatio kayaknya. Tapi dengan pertimbangan enak diucap dan hemat kata-kata maka Homo riseticus lebih mengena daripada Homo investigatio. Ada yang bisa menambahkan?

Homo riseticus adalah salah satu makhluk hidup di dunia yang memiliki keunikan tersendiri. Bahkan karena uniknya spesies yang satu ini maka berbagai persoalan muncul karena prilakunya. Menurutku Homo riseticus adalah salah satu keajaiban dunia, semua kategori keajaiban dunia ada di makhluk hidup satu ini, baik kategori alam maupun kategori benda.

Secara biologi Homo riseticus masuk dalam family homonidae (kera besar), walaupun begitu Homo riseticus bisa masuk dan digolongkan kemanapun, tergantung pada selera yang membuatnya. Mau dimasukkan pada kelompok mamalia ya bisa karena toh manusia juga mengunyah dan berburu, mau dimasukkan pada kelompok aves juga oke karena toh merekapandai terbangdari satu tempat ke tempat lainnya. Mau dimasukkan ke kelompok insect atau serangga ya monggo, toh mereka juga menjadi pollinator dan penyebar biji. Jadi, ya silahkan saja Anda mau memasukkannya ke kelompok mana?.

Walaupun masuk dalam keluarga homo, tetapi homo riseticus memiliki tabiat yang berbeda dan unik. Itu yang membedakannya dari homo-homo lainnya. Susah diatur, mau menang sendiri, ulet, teliti dan detail, ngeyel mau menang sendiri, kreatif, jujur, dan lain sebagainya adalah streotipe yang melekat pada homo riseticus. Kemana pun homo riseticus pergi maka streotipe yang melekat dalam bajunya akan ikut terbawa.

Mungkin dengan adanya berbagai atribut streotipe dan juga mungkin karena bisa dikelompokkan dalam family apapun membuat daya tahan hidup homo riseticus tergolong tinggi juga. Daya tahan ketika berada di lapangan maupun berada dalam kehidupan realitas sehari-hari. Bila berada di lapangan (hutan atau kampung orang lain) mereka bisa bertahan hidup dengan memakan apa yang ada di sekitarnya dan makan layaknya orang kampung makan, tanpa ada rasa jijik atau sikap-sikap yang menunjukkan mereka berasal darikastalebih tinggi dari penduduk lokal.

Sedangkan dalam realitas sehar-hari, mereka bisa terus hidup bahkan tetap mengembangkan spesiesnya dengan gaji bulanan yang sangat minim, bahkan mungkin lebih minim dari gaji supir pribadi di Jakarta. Padahal beban kerja dan kerja otak sangat tinggi. Di tengah situasi demikian otak Homo riseticus juga harus selalu berpikir mencari solusi antara kebutuhan dasar dan kebutuhan intelektual. Bagaimana dua kebutuhan ini berjalan seimbang. Keluarga bisa makan dan penelitian terlaksana dengan baik adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benar Homo riseticus. Dua kebutuhan ini menjadi pertarungan abadi pada homo riseticus. Mungkin karena adanya pertarungan itu yang menjadi daya hidupnya tinggi.

Namun sialnya, apa karena ketangguhan Homo riseticus dalam melampaui tantangan atau juga karena aturan yang dibuat sehingga mereka juga dibebani tetek bengek yang berkaitan dengan kwitansi dan saudara-saudaranya, yang membuat mereka tambah repot. Tidak ada biaya materai tetapi di lapangan harus ada yang dimaterai’i, adalah contoh kecil saja. Beban penelitian, lapangan yang kejam, laporan, membuat karya tulis ilmiah, dan mengurus administrasi pengajuan fungsionalnya tampaknya masih dinggap beban ringan oleh sebagian orang sehingga mereka harus juga dititipi beban tambahan. Jadi tidak hanya empat tanggung jawab, melainkan lebih banyak dari itu.

Sedikit bukti yang dapat ditunjukkan bahwa homo riseticus memiliki daya tahan hidup yang tinggi ya kita lihat saja, individu yang lahir dari kelompok ini relatif berumur panjang bila dibandingkan dengan homo-homo lainnya (Pak Mien dan pak Kuswata contohnya, mereka masih tetap perkasa di usia senja). Sangat jarang spesies homo riseticus mati muda, kalau tidak terserang penyakit ganas selagi berada di lapangan atau kecelakaan ketika berada di lapangan.

Banyaklah kisah-kisah mengenai ketangguhan makhluk hidup Homo riseticus ini selagi berada di lapangan. Mereka bisa dengan cekatan mengatasi dana minim dari kantor dengan cara jitu, salah satunya adalah penyederhanaan menu harian menjadi ikan asin dan mie yang menjadi santapan rutin setiap harinya, mengatasi peralatan sederhana yang dimilikinya dengan cara menciptakan alat-alat darurat berbahan dasar alam semesta. Solusi-solusi darurat dan kreatif selalu mereka temukan, sebagai sistem adaptasi barangkali.



Penelitian yang Membelenggu dan Membebaskan

Dunia homo riseticus adalah dunia kreatif yang sarat dengan ekplorasi pemikiran. Di sini gudangnya orang-orang yang ber-IQ tegak lurus tidak bengkok-bengkok apalagi jongkok seperti saya. Dalam penelitian, segala hal dicari tahu sampai sedetail-detailnya sampai semua pertanyaan penelitian terjawab. Tidak ada kata menyerah dalam kamus mereka.

Walaupun sarat dengan nuansa ilmu pengetahuan dan dibekali kecerdasan yang luwih atas Homo yang lain, tidak berarti para Homo riseticus yang berkecimpung dalam dunia penelitian sadar bahwa ada penelitian yang membelenggu dan ada penelitian yang membebaskan. Dua hal ini selalu berjalan beriringan dan batasnya sangat samar.

Penelitian yang membelenggu adalah aktifitas penelitian yang sifatnya mengulang. Hal yang dilakukan merupakan pengulangan dari apa yang dilakukan oleh seniornya, dosennya, atau juga tokoh panutannya. Tanpa ada usaha untuk keluar dari apa yang telah digariskan.

Dalam penelitian yang membelenggu, aktifitas penelitian berkisar pada itu-itu saja. Bila senior atau panutan melakukan A, B, C, dengan cara A, B, C, maka ia akan melakukan sama persis dengan yang dilakukan oleh seniornya. Hanya beda tempat dan waktu, dan begitu seterusnya. Apa yang dikatakan oleh senior atau panutannya sebagai benar dan cara benar maka dianggap sebagai kebenaran penelitian. Tanpa ada pertanyaan atau eksperimen lanjutan.

Sedangkan penelitian yang membebaskan adalah aktifitas penelitian yang pelakunya merasa bebas untuk berpikir, berkreasi, dan berimajinasi tanpa terkungkung oleh aturan-aturan yang mengikat atau juga karya-karya orang lain. Apa yang telah dilakukan oleh orang lain dianggap sebagai data tambahan atau bagian dari inspirasi, tidak membebek.

Dalam penelitian yang membebaskan juga mereka tidak berpikir tentang manfaat dari penelitiannya, apa yang mereka lakukan akan bermanfaat dengan segera atau tidak. Azas manfaat dari hasil penelitain merupakan salah satu belenggu kreatifitas. Walaupun demikian hasil penelitian mereka dikemudian hari akan bermanfaat bagi manusia dan untuk kehidupan yanglebih luas.

Dalam penelitian yang membebaskan, peneliti mampu berpikir independen tanpa intervensi dari manapun, mampu keluar dari mainstream umum yang berlaku di lingkungannya dan mempertanyakan segala sesuatu. Penelitian yang membebaskan akan membuat pelakunya merasa bebas untuk bereksperimen dan mengeksplorasi akal pikiran.

Semua tokoh-tokoh besar yang lahir dari rahim ilmu pengetahuan mampu berpikir dan bertindak yang membebaskan. Mereka tidak pernah memikirkan apapun selain apa yang ditelitinya, mereka bisa keluar dari mainstrem umum yang berlaku. Rumphius, Junghunn, Wallace (tiga ilmuwan ini saya kagumi, kalau mereka mengikuti Indonesia Idol atau Indonesia Mencari Bakat, atau Ilmuwan favorite yang bekerja di Indonesia maka saya akan kirim banyak sms untuk mendukung mereka bertiga), Linnaeus, Einsteain, dan peneliti penemu lainnya (silahkan anda memasukkan nama yang lain) adalah contoh bagaimana mereka membebaskan diri mereka dari belenggu.

Tetapi bagaimana mau bebas dari belenggu ya? Wong.....

Mati demi kecintaan pada ilmu pengetahuan (seperti Wallace, Rhumphius, dan Junghun) atau berdamai dengan keadaan yang membuat belenggu itu makin kencang mencekeram kita...semua pilihan ada pada kita...














Tidak ada komentar:

Posting Komentar