Memperhatikan adanya konflik antara manusia dan harimau di Sumatera Selatan yang telah menghilangkan 9 nyawa manusia dan membunuh jumlah yang tidak sedikit harimau serta adanya kekhawatiran sebagian warga yang bermukin di sekitar hutan di Padang, ingatan saya langsung tertuju pada novel yang dibuat oleh Muchtar Lubis yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1975 yang berjudul harimau harimau.
Novel tersebut menggambarkan tentang karakter tujuh orang yang menjadi tokoh sentral cerita. Ada Haji Rachmad yang skeptis memandang kehidupan karena pengalaman-pengalaman pahit yang dilaluinya selama ini. Ia kemudian lebih memilih hidup menyendiri dan menghindar dari komunikasi dengan warga. Wak Katok, tokoh antagonis yang dianggap memiliki ilmu beladiri tinggi serta kesaktian supranatural. Balam yang seusia denga wak Katok namun terlihat lebih pendiam, ia lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Sedangkan yang lain adalah Buyung, Talib, Sutan, dan Sanip. Keempatnya adalah pemuda yang penuh semangat dalam mengarungi kehidupan. Ketujuh tokoh sentral bersepakat untuk koalisi mencari damar di hutan.
Dalam perjalanan pulang setelah berhasil mendapatkan damar yang cukup banyak, rombongan ini diserang oleh harimau tua yang mangsanya diburu oleh mereka. Satu persatu anggota rombongan tewas karena serangan harimau. Kejadian ini memaksa mereka untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan selama hidup. Satu sama lain saling terperanjat karena ternyata orang yang mereka kenal secara baik-baik memiliki sisi kelam, berupa kejahatan-kejahatan dan kemunafikan yang disembunyikan.
Apa yang diungkapkan oleh novel ini sejalan dengan pendapat Ervin Goffman yang mengatakan bahwa dalam kehidupan manusia ada apa yang dia sebut sebagai panggung depan atau fron stage dan panggung belakang atau back stage.
Walau pun mungkin ditulis dengan maksud yang berbeda, namun novel tersebut bisa menggambarkan prilaku kita sebagai manusia dalam kaitannya dengan alam. Konflik antara manusia dan harimau baru-baru ini adalah sebuah kejadian yang tidak terjadi tanpa sebab. Kejadian tersebut adalah akibat dari rangkaian prilaku kita sebagai manusia yang tidak arif memberlakukan alam. Entah berapa juta hektar hutan sebagai habitat asli harimau (Panthera tigris sumatraensis) hilang, belum lagi menghitung jumlah binatang sebagai makanan utama harimau ikut mati, karena diburu atau juga habitat yang terganggu dan juga punahnya ekosistem sebagai siklus pra-syarat mutlak adanya siklus kehidupan yang ikut musnah.
Sebenarnya, selain pemerintah, banyak pihak yang secara terang-terangan mengklaim dirinya sebagai penjaga pelestarian lingkungan, baik yang mengurus hutan maupun spesies tertentu, tetapi pada kenyataannya hilangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan lingkungan terus melaju tak terkendali. Saling lempar kesalahan pun terjadi dan tidak jarang pemerintah dianggap tidak becus mengurus alam.
Kejadian harimau yang menerkam manusia, sama seperti dalam novel Muchtar Lubis adalah sebagai pesan yang dikirim Tuhan untuk menghukum yang berdosa. Harimau yang menerkan manusia pada hakekatnya adalah menerkam kita semua. Mencabik-cabik pemikiran dan prilaku kita sebagai manusia dalam memberlakukan alam selama ini.
Novel yang ditulis oleh Muctar Lubis puluhan tahun yang lalu masih banyak yang cukup relevan dalam menggambarkan situasi tersebut. Jangan-jangan yang menjadi Wak Katok adalah kita sendiri bukan pemerintah atau siapapun. Berlindung dalam kepura-puraan dan kesombongan wawasan. Jimat kita adalah program-program konservasi serta penyelamatan lingkungan yang ternyata tidak mempan dari kerusakan alam, sama seperti jimat buatan wak Katok yang dipakai oleh pak Balam, Sutan, dan Talib yang tidak menyelamatkan mereka dari terkaman harimau.
Mantra kita adalah aneka teori penyelamatan lingkungan dari berbagai kunjungan ke guru besar atau simposium dan pertemuan sejenisnya yang kerap kita datangi, tetapi sebenarnya bukan lingkungan yang hendak kita selamatkan melainkan diri kita sendiri. Selamat dari kemiskinan dan gunjingan publik. Berdiri dengan gagah sambil berteriak lantang akulah sang penjaga lingkungan, akulah yang mengurus lingkungan, dan akulah sang pahlawan yang menyelamatkan kehidupan ribuan spesies. Kita berbangga diri dengan program-program yang kita tawarkan, tanpa peduli apakah program tersebut cukup efektif dalam menjaga kerusakan, apalagi mensejahterakan masyarakat. Kita berbangga diri karena kita mendapatkan banyak dana yang besar untuk mengurus lingkungan.
Apabila kita memaknai terkaman harimau di Sumatera Selatan sebagai pesan Tuhan untuk kita semua, maka sungguh terdapat banyak pelajaran dari pesan tersebut. Untuk memaknai pesan Tuhan yang simbolis tersebut, butuh kerendahan dan kejernihan hati tanpa prasangka terhadap siapapun. Sehingga yang diperlukan kita saat ini adalah bukan saling menyalahkan melainkan introspeksi diri melalui pengakuan kesalahan dan mulai berbenah untuk bersama-sama berkordinasi memperbaiki kesalahan.
Bahwa mungkin sebenarnya ada yang salah dalam diri kita, baik niat ataupun cara kita dalam menyampaikan kampanye pelestraian lingkungan, atau jangan-jangan sebenarnya kita belum melakukan apapun untuk lingkungan bila kita memperhatikan masih berlanjutnya kerusakan lingkungan dan aneka keserakahan manusia lainnya.
Minggu, 07 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar